Perjalanan ini berawal dari Jakarta dengan satu tujuan sederhana, berbagi ilmu dan pengalaman tentang teknologi dan pendidikan di wilayah kepulauan. Perjalanan akhir tahun, periode November menuju Desember, saat laut di kawasan Sulawesi Utara dikenal memiliki cuaca yang cukup ekstrem. Di tengah kondisi itu, saya berangkat sebagai dosen Sistem Informasi Universitas Siber Asia (UNSIA) menuju Pulau Sangihe untuk mengisi kuliah umum di Politeknik Negeri Nusa Utara (POLNUSTAR), Kampus Manganitu.
Dari Jakarta, saya terbang menuju Manado sekitar 3 jam 25 menit. Setibanya di Manado, perjalanan berlanjut lewat laut. Dari Pelabuhan Manado, saya naik kapal menuju Pelabuhan Tahuna di Sangihe, dengan waktu tempuh kurang lebih 9 jam. Kapal berangkat pukul 19.00 WITA dan tiba sekitar pukul 04.30 WITA. Perjalanan malam di atas laut dengan cuaca akhir tahun yang menantang menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Di satu sisi melelahkan, tetapi di sisi lain mengingatkan bahwa akses pendidikan berkualitas untuk wilayah kepulauan memang layak diperjuangkan.
Kuliah umum digelar pada 10 November 2025 di Auditorium Kampus Manganitu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Jurusan Teknologi Informatika, Program Studi Sistem Informasi POLNUSTAR. Acara dibuka oleh Wakil Direktur Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bapak Jefri A. Mendeno, S.Pi., M.Si. Suasana terasa hangat. Mahasiswa, dosen, dan jajaran pimpinan kampus menyambut dengan sangat bersahabat. Saya hadir membawa nama UNSIA, tetapi yang saya rasakan adalah ruang kolaborasi dan belajar bersama.
Dalam sesi pemaparan, saya tidak hanya membahas geoinformasi dan artificial intelligence. Saya mulai dengan pondasi dasar yang penting bagi keberlanjutan pendidikan di Indonesia. Kami membahas peran teknologi dan sistem informasi, perbedaan data dan informasi, konsep koordinat dan pemetaan, sampai ke bagaimana data bisa diolah menjadi informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Setelah itu, barulah saya mengajak peserta masuk ke topik geoinformasi dan AI dalam konteks pembangunan wilayah kepulauan.
Saya memperkenalkan bagaimana geoinformasi dapat mendukung perencanaan wilayah, pengelolaan sumber daya maritim, dan penguatan layanan di wilayah pesisir. Lalu saya hubungkan dengan peran AI. Mulai dari klasifikasi citra, deteksi objek, hingga pemodelan untuk membantu analisis dan peramalan. Tujuannya sederhana. Saya ingin mahasiswa melihat bahwa teknologi ini tidak jauh dari kehidupan mereka. Justru sangat relevan dengan konteks Sangihe sebagai wilayah kepulauan.
Untuk mendekatkan konsep ke praktik, saya memperkenalkan beberapa alat yang bisa mereka gunakan setelah kuliah umum berakhir. QGIS untuk eksplorasi dan visualisasi data spasial. Platform komputasi berbasis awan untuk pengolahan data skala besar. Bahasa pemrograman seperti Python untuk menguji ide dan membangun prototipe solusi. Saya ingin peserta yang hadir saat itu pulang dengan satu kesan jelas. Bahwa peserta bisa mulai dari apa yang ada di depan mata, pelan-pelan dan bertahap.
Sesi studi kasus membuat suasana semakin hidup. Kami membahas contoh penerapan teknologi untuk pengelolaan wilayah kepulauan, pemantauan lingkungan, dan dukungan kebijakan. Saya mengajak mahasiswa membayangkan diri mereka sebagai perancang solusi untuk daerahnya sendiri. Bukan hanya sebagai pengguna aplikasi. Di beberapa momen, diskusi berubah seperti workshop mini. Mahasiswa bertanya, menanggapi, dan mengaitkan materi dengan pengalaman mereka.
Interaksi di ruangan terasa menyenangkan. Pertanyaan yang muncul tidak hanya teknis, tetapi juga strategis. Mulai dari “Bagaimana memulai kalau laptop terbatas” sampai “Bagaimana peluang karier di bidang geospasial dan AI”. Saya sesekali memberi pertanyaan balik untuk mengasah cara berpikir kritis. Beberapa mahasiswa yang memberikan jawaban menarik mendapatkan merchandise berupa kaos. Hadiah sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana auditorium terasa lebih hidup.
Setelah kuliah umum selesai, saya melanjutkan agenda diskusi dengan Wakil Direktur III Bidang Kerja Sama POLNUSTAR. Kami membicarakan peluang kolaborasi yang lebih luas. Pengembangan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri digital. Program kuliah tamu yang berkelanjutan. Kegiatan bersama untuk peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa. Bahkan membuka ruang eksplorasi untuk program berbasis pendidikan jarak jauh dan penguatan kompetensi teknologi informasi bagi wilayah kepulauan. Pertemuan ini sangat menggembirakan karena visi kami terasa sejalan.
Pada tanggal 10 November 2025 malam, setelah seluruh agenda selesai, saya kembali ke pelabuhan untuk perjalanan pulang. Kapal berangkat dari Pulau Sangihe pukul 19.00 WITA dan tiba di Manado sekitar pukul 05.30 pagi. Kali ini perjalanan laut memakan waktu lebih dari 10 jam. Dari Manado, saya melanjutkan perjalanan dengan penerbangan kembali ke Jakarta. Rangkaian perjalanan ini mengajarkan satu hal. Bahwa jarak dan cuaca bisa menambah durasi perjalanan, tetapi tidak mengurangi semangat untuk berbagi ilmu.
Jika Anda dosen, pendidik, atau mahasiswa, saya percaya kisah ini menunjukkan satu pesan penting. Ketika kampus di kota dan kampus di wilayah kepulauan saling membuka diri untuk bekerja sama, kualitas pendidikan akan tumbuh bersama. Melalui kuliah umum, diskusi, dan kolaborasi berkelanjutan, saya berharap semakin banyak mahasiswa di seluruh Indonesia, termasuk di pulau-pulau terdepan, dapat merasakan pengalaman belajar yang relevan dengan masa depan dan potensi daerah mereka sendiri. Jika Anda ingin menjajaki kolaborasi serupa, pintu komunikasi selalu terbuka.
Geoinformasi bukan hanya peta, tapi cara mengubah data jadi keputusan.
Tunjukkan bahwa kita bukan sekadar pengguna peta, tapi pembuat perubahan Luar Biasa untuk Kepulauan di Indonesia..1






















